Monday, 30 November 2015

Welcoming December, the Painful Month.

Hello, welcome December
The painful month.
The month of farewell.
Looking back at you in the past is hard, but knowing that I have to be brave enough to say goodbye and pass this December is harder and more painful.
I beg you from the deepest of my heart, please be nice, December.


(backsong: Back to December, Taylor Swift)

Hello, December. Nggak kerasa udah ketemu lagi aja tahun 2015 ini. Nggak, aku nggak bohong kalau bilang December is a painful month. Bener-bener nggak bohong, dan nggak berlebihan juga sih. Ya gimana nggak painful, kalau selama tiga desember terakhir aku selalu melewatinya dengan sendiri setelah melalui proses yang sangat menyakitkan yang disebut perpisahan. Kenapa perpisahan? Putus, Cis? Ya nggak juga sih. Dibilang iya ya bukan, dibilang bukan tapi ya juga iya. Lah gimana sih? Ya soalnya, yang terakhir ini, kita juga pisah tapi nggak putus. Karena memang kita belum memulainya, tapi sudah berpisah duluan. Paham? :')

Jadi, tiga tahun ini (dua sih, sebenernya) dari 2013, aku selalu putus di bulan Desember. Kok dua? Ya soalnya yang tahun 2015 ini kita pisahnya bulan November akhir. Biar sekalian, dianggep Desember aja, hehehe. Soalnya memang dulu aku pernah bilang sama dia, kalau dua Desemberku dari 2013 aku selalu melewatinya dengan putus, dan aku bilang sama dia buat stay with me and make my December memorable. Tapi ya, mau gimana lagi, takdir berkata lain. Kita memang belum bisa bersama, saat ini, bahkan hingga nanti. Ya mau gimana lagi :')

Desember 2013, aku pisah sama mantanku yang anak karawitan (yang sekarang pacaran sama -dulu- temen sekelasku selama 4 semester), putusnya Oktober sih, tapi bener-bener pisahnya Desember, tanggal 5. A day after his birthday. Desember 2014, aku putus sama mantanku yang anak musik, 4 Desember, dan terakhir ketemu bener-bener ketemu, 5 Desember 2014. Tanggal yang sama di mana aku tau kalau mantanku yang anak karawitan itu BBman sama temenku sekelas :') Kapan-kapan deh, aku ceritain. Hehehe.

Terus, yang Desember 2015 ngapain dong?

Jadi gini, aku bingung deh mau cerita di sini atau di post setelah ini. Tapi setelah dipikir-pikir, aku tulis di post yang setelah ini aja lah. Biar nanti bikin judul baru :') Post ini buat pengantar aja untuk beberapa tulisan ke depannya. Ya maaf-maaf aja kalau tulisan bulan ini galau terus. Emang lagi sedih, hehehe.

Ya udah, segini dulu, cerita lainnya aku tulis di post berikutnya ya.

Harapanku nggak usah muluk-muluk pengen yang aneh-aneh lah, semoga Desember ini aku bisa melewatinya dengan tegar dan nggak baperan, hehehe.