Blue Moon
Acintyaswasti Widianing
Hai! Aku Ancis. (niatnya) sih aku mau nulis cerita Blue Moon, tapi untuk chapternya kayanya masih lompat-lompat dan nanti bakalan diedit.
Nggak tau sih, bakalan bisa rutin nulis ini nggak (secara, nggak ada juga yang baca hehehe)
INSPIRED BY orang-orang yang pernah hadir di hidupku.
INSPIRED loh ya. bukan Based on true story, hehe.
Enjoy!
* * *
BLUE MOON
Dedicated to you, my [favorite] trombonist.
***
And then there suddenly appeared before me
The only one my arms will hold
I heard somebody whisper please adore me
And when I looked to the moon it turned to gold
Blue moon
Now I'm no longer alone
Without a dream in my heart
Without a love of my own
Suara Ella Fitzgerald yang sedang menyanyikan lagu Blue Moon terdengar ketika aku membuka pintu dan memasuki cafe dengan nama yang sama, Blue Moon Cafe. Hari ini adalah hari pertamaku menginjakkan kaki di Blue Moon Cafe setelah setahun lebih aku tidak mengunjunginya. Aku menyapa Tita salah seorang pegawaiku. Ya, pegawaiku. Blue Moon Cafe ini adalah kafe milikku yang aku percayakan kepada Rama (temanku) untuk mengelolanya ketika aku sedang berada di Jepang.
Aku berdiri di samping pintu masuk dan memandang sekeliling. Suasana Blue Moon Cafe siang ini tidak terlalu ramai, hanya ada beberapa meja yang terisi. Ah, aku rindu bersibuk-sibuk ria di sini. Aku rindu melayani pelanggan ketika baru ada dua karyawan selain aku dan Rama di sini, ketika kafe ini belum sebesar sekarang, tentunya. Terlihat Rama baru keluar dari dapur dengan memakai celemek. Aku melambaikan tangan dan tersenyum kepadanya.
Rama tersenyum dan balas melambai padaku, kemudian ia bergegas menghampiriku. "Hey, Rin! Kok nggak bilang-bilang mau ke sini?" Kata Rama yang kemudian memelukku. "Gila ya, baru setaun nggak ketemu aja kerasa lama banget. Yuk duduk." Aku mengikuti Rama dan duduk di salah satu sudut kafe.
"Gua kira lu masih di Semarang Rin. Taunya udah di sini aja lu. Gimana di Semarang?" Tanya Rama begitu kami berdua duduk."
"Nggak ah, udah kangen sama Jogja. Ya nggak gimana-gimana sih, udah biar diurusin Mas Widi aja buat urusan buka cabangnya. Aku agak males ngurusnya." Jawabku. Aku memang berencana membuka cabang Blue Moon Cafe di Semarang, itu sebabnya sepulangnya dari Jepang aku datang ke Semarang dulu sebelum kembali ke tanah kelahiranku, Yogyakarta.
"Ya udah deh, gue ke dalem ya. Mau ngecek proposal dulu, akhir-akhir ini banyak mahasiswa sama anak sekolahan ngasih proposal buat jadi sponsor." Rama berdiri dan berjalan menuju ke kantor. "Oh iya Rin." Rama tiba-tiba berbalik dan mengatakan sesuatu. "Kemarin ada yang nanyain lu tuh."
"Siapa?" tanyaku.
"Arkha. Tiga hari yang lalu dia ke sini nanyain elo, tapi lo masih di Semarang." kata Rama.
"Arkha?"Aku tertegun mendengar ucapan Rama. Perasaanku jadi tak karuan mendengarnya. "Dia nitip pesen apa-apa lagi nggak?" Tanyaku.
"Enggak sih, dia juga nggak nanya kontak lu. Dia cuma bilang, katanya pengen ketemu lu sebelum dia berangkat lagi, tapi dia nggak bilang mau ke mana. Gua juga lupa sih mau ngabarin elu. Blue Moon waktu itu lagi rame soalnya." Rama kembali berbalik dan berjalan menuju kantor, sementara aku terdiam memandangi Hot Caramel yang sesungguhnya sudah mulai dingin di hadapanku.
Arkha.
Vayu Arkha Surendra.
Mendengar nama itu membuat perasaanku campur aduk. Pikiranku melayang kembali ke enam tahun lalu, saat aku masih semester tiga. Saat di mana aku masih bersama dengan Arkha. Ya, Arkha adalah mantan pacarku saat aku masih kuliah. Sudah lama aku tidak bertemu dengannya. Tanpa terasa pandanganku mulai kabur. Aku mengusap mataku, mencegah air mataku tumpah. Aku beranjak pergi dari Blue Moon Cafe dan memanggil taksi. Entah kenapa, aku sangat ingin datang ke kampusku saat ini.
--
read part 2
Acintyaswasti Widianing
Hai! Aku Ancis. (niatnya) sih aku mau nulis cerita Blue Moon, tapi untuk chapternya kayanya masih lompat-lompat dan nanti bakalan diedit.
Nggak tau sih, bakalan bisa rutin nulis ini nggak (secara, nggak ada juga yang baca hehehe)
INSPIRED BY orang-orang yang pernah hadir di hidupku.
INSPIRED loh ya. bukan Based on true story, hehe.
Enjoy!
* * *
BLUE MOON
Dedicated to you, my [favorite] trombonist.
***
And then there suddenly appeared before me
The only one my arms will hold
I heard somebody whisper please adore me
And when I looked to the moon it turned to gold
Blue moon
Now I'm no longer alone
Without a dream in my heart
Without a love of my own
Suara Ella Fitzgerald yang sedang menyanyikan lagu Blue Moon terdengar ketika aku membuka pintu dan memasuki cafe dengan nama yang sama, Blue Moon Cafe. Hari ini adalah hari pertamaku menginjakkan kaki di Blue Moon Cafe setelah setahun lebih aku tidak mengunjunginya. Aku menyapa Tita salah seorang pegawaiku. Ya, pegawaiku. Blue Moon Cafe ini adalah kafe milikku yang aku percayakan kepada Rama (temanku) untuk mengelolanya ketika aku sedang berada di Jepang.
Aku berdiri di samping pintu masuk dan memandang sekeliling. Suasana Blue Moon Cafe siang ini tidak terlalu ramai, hanya ada beberapa meja yang terisi. Ah, aku rindu bersibuk-sibuk ria di sini. Aku rindu melayani pelanggan ketika baru ada dua karyawan selain aku dan Rama di sini, ketika kafe ini belum sebesar sekarang, tentunya. Terlihat Rama baru keluar dari dapur dengan memakai celemek. Aku melambaikan tangan dan tersenyum kepadanya.
Rama tersenyum dan balas melambai padaku, kemudian ia bergegas menghampiriku. "Hey, Rin! Kok nggak bilang-bilang mau ke sini?" Kata Rama yang kemudian memelukku. "Gila ya, baru setaun nggak ketemu aja kerasa lama banget. Yuk duduk." Aku mengikuti Rama dan duduk di salah satu sudut kafe.
"Gua kira lu masih di Semarang Rin. Taunya udah di sini aja lu. Gimana di Semarang?" Tanya Rama begitu kami berdua duduk."
"Nggak ah, udah kangen sama Jogja. Ya nggak gimana-gimana sih, udah biar diurusin Mas Widi aja buat urusan buka cabangnya. Aku agak males ngurusnya." Jawabku. Aku memang berencana membuka cabang Blue Moon Cafe di Semarang, itu sebabnya sepulangnya dari Jepang aku datang ke Semarang dulu sebelum kembali ke tanah kelahiranku, Yogyakarta.
"Ya udah deh, gue ke dalem ya. Mau ngecek proposal dulu, akhir-akhir ini banyak mahasiswa sama anak sekolahan ngasih proposal buat jadi sponsor." Rama berdiri dan berjalan menuju ke kantor. "Oh iya Rin." Rama tiba-tiba berbalik dan mengatakan sesuatu. "Kemarin ada yang nanyain lu tuh."
"Siapa?" tanyaku.
"Arkha. Tiga hari yang lalu dia ke sini nanyain elo, tapi lo masih di Semarang." kata Rama.
"Arkha?"Aku tertegun mendengar ucapan Rama. Perasaanku jadi tak karuan mendengarnya. "Dia nitip pesen apa-apa lagi nggak?" Tanyaku.
"Enggak sih, dia juga nggak nanya kontak lu. Dia cuma bilang, katanya pengen ketemu lu sebelum dia berangkat lagi, tapi dia nggak bilang mau ke mana. Gua juga lupa sih mau ngabarin elu. Blue Moon waktu itu lagi rame soalnya." Rama kembali berbalik dan berjalan menuju kantor, sementara aku terdiam memandangi Hot Caramel yang sesungguhnya sudah mulai dingin di hadapanku.
Arkha.
Vayu Arkha Surendra.
Mendengar nama itu membuat perasaanku campur aduk. Pikiranku melayang kembali ke enam tahun lalu, saat aku masih semester tiga. Saat di mana aku masih bersama dengan Arkha. Ya, Arkha adalah mantan pacarku saat aku masih kuliah. Sudah lama aku tidak bertemu dengannya. Tanpa terasa pandanganku mulai kabur. Aku mengusap mataku, mencegah air mataku tumpah. Aku beranjak pergi dari Blue Moon Cafe dan memanggil taksi. Entah kenapa, aku sangat ingin datang ke kampusku saat ini.
--
read part 2
No comments:
Post a Comment