Friday, 16 October 2015

Blue Moon [02]

Blue Moon
part 02
this part will be SHORT~

read part I
---

Aku berjalan menyusuri kampusku dulu. Belum banyak yang berubah, masih seperti tiga tahun lalu saat aku lulus dari sini. Aku duduk di bangku di depan gedung kuliah umum dan melirik arlojiku, pukul 18.23, masih terhitung sore untuk suasana di kampusku. Masih banyak mahasiswa yang berlatih di studio 1, pendopo, dan lobby jurusanku. Sayup-sayup terdengar suara gamelan ditabuh dari jurusan karawitan. Ah, aku rindu suasana ini.

"Lho, mbak? Ngapain di sini?" Seseorang menghampiriku sambil menenteng tas yang kutebak berisi alat musik.
"Eh, Arya, ya? Nggak ngapa-ngapain, sih. Pengen aja ke sini. Lha kamu ngapain di sini, ada latihan?" Aku kembali bertanya. Arya meletakkan tasnya dan duduk di depanku.
"Tadi habis latihan ngiringin TA-nya adek angkatanmu, sekalian nanti mau nonton resital anak baru. Nonton sekalian yuk mbak, mumpung ketemu. Eh, ngomong-ngomong kapan balik ke sini?" Aku dan Arya asyik mengobrol karena sudah hampir empat tahun tidak bertemu. Arya adalah teman dekat Arkha, yang secara tidak langsung menjadi teman dekatku juga karena dulu sering bertemu.

Waktu akhirnya menunjukkan pukul 19 lebih, Arya mengajakku untuk menonton resital mahasiswa baru jurusan musik. Aku menikmati pertunjukan yang berlangsung selama hampir dua jam dengan perasaan yang masih campur aduk. Ah, kenapa di hari pertama aku pulang ke Yogyakarta aku harus bertemu dengan orang yang mengingatkanku pada Arkha? Semua ini membuatku terhanyut dalam nostalgia masa lalu dengan Arkha yang indah sekaligus menyakitkan.

Ingin rasanya aku menanyakan tentang Arkha pada Arya. Tapi mulut ini tak bisa menyampaikannya. Seperti ada beban yang sangat berat bagiku untuk sekedar menanyakan kabar tentang Arkha. Akhirnya aku memutuskan untuk hanya diam dan menikmati suasana jalanan kota Yogyakarta yang sudah tiga tahun ini aku tinggalkan. Meski begitu, pikiranku masih terpaku pada Arkha, Arkha, dan Arkha. Biar lah, aku harus menanyakan tentang Arkha.

"Arkha..." Ups, ternyata Arya juga menyebutkan nama Arkha pada saat yang bersamaan. Kami berdua tertawa, ternyata ada yang ingin Arya katakan tentang Arkha.
"Arkha kenapa, Ya?" tanyaku.
"Eng, mbak dulu aja deh, Arkha kenapa mbak?" Arya balik bertanya.
"Hmm, cuma mau tanya aja, sih. Arkha sekarang di mana? Kata temenku dia habis ke kafeku nanyain aku, tapi aku masih di Semarang. Katanya pengen liat aku sebelum pergi, emang dia mau ke mana sih?"
"Nggak tau juga mbak. Dia juga tiba-tiba ngechat aku nanyain kafemu di mana, udah lama banget nggak kontak nih. Nggak ngerti juga deh mau ke mana. Mbak mau aku kasih kontaknya Arkha?"
"Nggak usah deh. Biarin aja, aku juga nggak ngerti kan dia nanyain aku mau apa." Aku menolak tawaran Arya, meskipun sebenarnya aku sangat menginginkannya. Arya pun tidak mengatakan apa-apa lagi hingga kami sampai ke rumahku. Begitupun denganku, aku tak mengatakan apapun, meskipun berbagai pertanyaan tentang Arkha muncul di benakku.

---

No comments:

Post a Comment